In a darkened room. Selama beberapa hari ini aku telah melakukan kegiatan 'bunuh diri'. Wasted time, itu yang kupunya kini. Siang menjadi gelap dan malam terang-benderang. Hingga pagi tiba aku masih berkhayal
Malu rasanya menghadap Tuhan. Aku selalu berdoa untuk kebaikan, tapi aku tak melakukan. Semakin ku tak mengerti aku menceramahi diri sendiri. Hanya keserakahan dengan tangan-tangan gurita, ambil sana ambil sini tapi tak dikelola semampu diri.
Kuinginkan perubahan, aku dihantui pikiran-pikiran tentang masa depan. Ingin bercerita tapi tak tega. Dari keadaan aku coba menebak, seakan kita sedang mengalami kesulitan.
Aku membutuhkan pengorbanan lebih untuk ilmu pengetahuan. Bahkan seorang pencari rela menempuh jarak berjuta-juta kilometer demi sebuah pemahaman. Tapi Kemandirian aku belum punya, bahkan untuk mengunyah masih disuapi. Karena ku tak ingin konsentrasi terbagi, aku bertahan untuk keinginan.
Aku yakin kita mampu, tapi aku tak sanggup bercerita. Semakin ku tak mengerti, aku mencaci bayang-bayang. Kenapa penampilan yang harus dimewahkan? bukankah itu hanya sebatas pagar-pagar cantik. Bahkan maling juga tak peduli, hanya sebatas gengsi. Mengapa isi rumah tak diperhatikan? bukankah itu yang sesungguhnya. Mengapa kekayaan dilihat dari sesuatu yang kita punya? bukankah sesuatu yang diberi lebih berharga. Kenapa terpaku dengan penilaian? bukankah senyum bisa direkayasa.
Lelaki termangu, lelaki yang berproses mengingini. Sosok yang kualami kini. Dimana aku hanya ingin menyalahkan diri sendiri. Terkadang iba melihat semua ini, lagu-lagu Rock 'n Roll yang kupunya menjadi pelampiasan sesaat.
Pada siapa aku bercerita bahwa aku sedang terjatuh, aku sedang mengalami pertarungan. Malu rasanya terlalu terbuka. Atau ada yang ingin menceramahi? aku sungguh bersyukur, karena itu yang kubutuhkan.
Malu rasanya menghadap Tuhan. Aku selalu berdoa untuk kebaikan, tapi aku tak melakukan. Semakin ku tak mengerti aku menceramahi diri sendiri. Hanya keserakahan dengan tangan-tangan gurita, ambil sana ambil sini tapi tak dikelola semampu diri.
Kuinginkan perubahan, aku dihantui pikiran-pikiran tentang masa depan. Ingin bercerita tapi tak tega. Dari keadaan aku coba menebak, seakan kita sedang mengalami kesulitan.
Aku membutuhkan pengorbanan lebih untuk ilmu pengetahuan. Bahkan seorang pencari rela menempuh jarak berjuta-juta kilometer demi sebuah pemahaman. Tapi Kemandirian aku belum punya, bahkan untuk mengunyah masih disuapi. Karena ku tak ingin konsentrasi terbagi, aku bertahan untuk keinginan.
Aku yakin kita mampu, tapi aku tak sanggup bercerita. Semakin ku tak mengerti, aku mencaci bayang-bayang. Kenapa penampilan yang harus dimewahkan? bukankah itu hanya sebatas pagar-pagar cantik. Bahkan maling juga tak peduli, hanya sebatas gengsi. Mengapa isi rumah tak diperhatikan? bukankah itu yang sesungguhnya. Mengapa kekayaan dilihat dari sesuatu yang kita punya? bukankah sesuatu yang diberi lebih berharga. Kenapa terpaku dengan penilaian? bukankah senyum bisa direkayasa.
Lelaki termangu, lelaki yang berproses mengingini. Sosok yang kualami kini. Dimana aku hanya ingin menyalahkan diri sendiri. Terkadang iba melihat semua ini, lagu-lagu Rock 'n Roll yang kupunya menjadi pelampiasan sesaat.
Pada siapa aku bercerita bahwa aku sedang terjatuh, aku sedang mengalami pertarungan. Malu rasanya terlalu terbuka. Atau ada yang ingin menceramahi? aku sungguh bersyukur, karena itu yang kubutuhkan.


0 comments:
Post a Comment