Kadangkala keinginan untuk menulis
timbul dengan semangat membara. Beragam bacaan pun dilahap satu-persatu. Mulai
dari artikel, buku, majalah, dll. Kegiatan membaca tentunya menjadi awal untuk
menulis sebuah topik yang diinginkan.
Tetapi, tatkala ingin menuangkannya ke
dalam tulisan, bermacam kendala timbul di depan mata. Banyak pertanyaan yang
bisa menjadi penyebab sampai kita stagnan (mandek), hingga seuntai kalimat pun
tak tertorehkan.
Apakah tulisan yang akan kugubah bisa sebagus yang kuinginkan?. Sepertinya topik yang akan kutulis sudah ada? Buat apalagi aku menulis topik tersebut, gk penting lagi. Sudahlah, sepertinya aku belum bisa memulai menulis, aku perlu belajar menulis, aku butuh sebuah komunitas yang mengkaji tentang tata cara membuat sebuah tulisan berkualitas.
Apakah tulisan yang akan kugubah bisa sebagus yang kuinginkan?. Sepertinya topik yang akan kutulis sudah ada? Buat apalagi aku menulis topik tersebut, gk penting lagi. Sudahlah, sepertinya aku belum bisa memulai menulis, aku perlu belajar menulis, aku butuh sebuah komunitas yang mengkaji tentang tata cara membuat sebuah tulisan berkualitas.
Pertanyaan-pertanyaan itu bisa
menghantui tatkala ingin menulis. Kadangkala aku lebih melayani beragam
pertanyaan tersebut ketimbang merespon keberanian dan semangat yang sudah ada,
sehingga pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berkecamuk di alam pikiran.
Perlahan-lahan semangat yang berapi-api pun pudar diterkam buasnya pertanyaan-pertanyaan
tersebut, sehingga rasa malas dan kantuk membuat mata lelah. Semangat yang
semula membara kini berubah menjadi cahaya lampu 5 watt, cahaya temaram yang
memang lebih cocok untuk dibawa melayang ke pulau kapuk. Tidur pun lebih nikmat
daripada menulis.
Tetapi, apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut harus kita ladeni sepenuhnya?. Kenapa tak memulainya saja tanpa ada embel-embel keinginan tersebut.
Tetapi, apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut harus kita ladeni sepenuhnya?. Kenapa tak memulainya saja tanpa ada embel-embel keinginan tersebut.
Kalau kita melihat sejarah dan membaca
biografi orang-orang yang sukses dalam menulis. Tak semuanya pertanyaan
tersebut dapat diterima. Karena banyak penulis yang memulai tulisannya tanpa
harus membutuhkan 'kesempurnaan'. Tanpa harus membutuhan fasilitas-fasilitas
besar yang dianggap dapat mendongkrak kemampuan menulis.
Kita bisa merujuk kepada mereka, justru
mereka berhasil karena keberanian yang mereka punya dalam mencoba, mereka peka
terhadap zaman yang sedang dihadapi, punya intuisi yang kuat, mereka tak
dihalangi oleh sebuah pertanyaan apakah karya tersebut harus bagus atau tidak?.
Jadi, dapatlah diambil sebuah pesan, bahwa keberanian dalam mencoba adalah
faktor penentu sebuah keberhasilan dalam menulis.
Keinginan yang selama ini kudamba
adalah “Aku ingin menjadi penulis”. Rasanya terlalu besar dan menjadi beban
bagiku. Eloklah jika dirubah sedikit menjadi “Aku harus menulis”. Karena dengan
berangkat dari motivasi “Aku harus menulis”, aku tak dihantui bayang-bayang
keinginan besar hingga membuatku stagnan dan tidak menukil secuil kalimat
apapun.
Tanpa menafikkan sebuah pepatah:
gantungkan cita-citamu setinggi langit, memang cita-cita besar dibutuhkan untuk
menjadikan kita orang yang besar, tapi hal terpenting dalam membangun sesuatu
yang besar adalah memulainya dengan hal-hal kecil. Seperti membangun sebuah
rumah, himpunan batubata yang kecil dibutuhkan demi berdirinya tembok-tembok
dan dinding-dinding gedung yang kokoh. Ambillah batu bata satu-persatu,
torehkan kalimat sedikit demi sedikit, tanpa motif ingin menang, tanpa desakan
agar sebuah karya bagus atau tidak, hingga sebuah tulisan dapat ditorehkan.
Kegiatan membaca dan menulis adalah hal
terpenting dalam membangun sebuah peradaban. Memulainya dengan membaca,
mengkaji, mengamalkannya hingga menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Belajar
menulis sejak dini harus dilakukan, karena sia-sia rasanya ketika apa yang
dibaca dan dipahami tak dapat kita petakan ke dalam sebuah tulisan yang mungkin
bisa bermanfaat untuk orang lain.
Bak air yang tergenang, bisa membusuk
lambat laun, Bak katak dalam tempurung. Pepatah ini mungkin tak
asing bagi kita, interpretasi dari pribahasa tersebut adalah Aku harus
menuangkan dari segala sesuatu yang kubaca dan kupahami ke dalam sebuah
tulisan, harus kumulai dengan semangat berani untuk mencoba, tanpa harus takut
untuk dikritisi bahkan disalahkan. Karena kritikan adalah kejujuran yang bisa
kita dapat walau dari musuh sekalipun. Maka kritik dan saran sangat dibutuhkan
dalam memperbaiki sebuah tulisan.
Aku harus menulis sebelum aku menjadi
penulis, dan kuabaikan segala ‘kesempurnaan’. Aku harus memulainya dengan
keberanian untuk mencoba. Kalimat-kalimat ini kujadikan sebagai motivasi dan
bantahan atas pertanyaan-pertanyaan yang bisa menghadang dalam berproses
membuat tulisan. Bukan bermaksud ingin sombong dan congkak, tetapi tekad dan
komitmen rasanya perlu dituangakan dalam sebuah kalimat, sehingga kita dapat
berkaca darinya. Kalimat ini dapat bermanfaat dalam membangun sebuah semangat
ketika kita ingin memulai sesuatu, namun kita takut untuk mencoba. Sedangkan
ketika sudah merasa bisa dan terbiasa, maka semangat untuk menjadikan sebuah
karya tulis menjadi berkualitas memang harus ditanamkan. Tetapi, dalam
berproses, hal-hal kecil sangat berarti untuk dilakukan, seperti keberanian
untuk mencoba dengan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Hingga pada suatu waktu
kita dapat menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas. Maka, mulailah dengan
hal-hal kecil dengan keberanian yang tinggi untuk mencoba.
Tulislah apapun yang ingin kau utarakan. Timbulkan perasaan senang dalam menulis, tanpa harus merasa terbebani. Terimalah kritik dan saran, setelah itu kita belajar dari kesalahan-kesalahan. Mulailah memperbaikinya, menulislah kembali, hingga karya-karya yang bermanfaat dapat ditorehkan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya.


0 comments:
Post a Comment