23 November 2010

Aku Harus Menulis Sebelum Aku Menjadi Penulis


Kadangkala keinginan untuk menulis timbul dengan semangat membara. Beragam bacaan pun dilahap satu-persatu. Mulai dari artikel, buku, majalah, dll. Kegiatan membaca tentunya menjadi awal untuk menulis sebuah topik yang diinginkan.

Tetapi, tatkala ingin menuangkannya ke dalam tulisan, bermacam kendala timbul di depan mata. Banyak pertanyaan yang bisa menjadi penyebab sampai kita stagnan (mandek), hingga seuntai kalimat pun tak tertorehkan.

Apakah tulisan yang akan kugubah bisa sebagus yang kuinginkan?. Sepertinya topik yang akan kutulis sudah ada? Buat apalagi aku menulis topik tersebut, gk penting lagi. Sudahlah, sepertinya aku belum bisa memulai menulis, aku perlu belajar menulis, aku butuh sebuah komunitas yang mengkaji tentang tata cara membuat sebuah tulisan berkualitas.
Pertanyaan-pertanyaan itu bisa menghantui tatkala ingin menulis. Kadangkala aku lebih melayani beragam pertanyaan tersebut ketimbang merespon keberanian dan semangat yang sudah ada, sehingga pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berkecamuk di alam pikiran. Perlahan-lahan semangat yang berapi-api pun pudar diterkam buasnya pertanyaan-pertanyaan tersebut, sehingga rasa malas dan kantuk membuat mata lelah. Semangat yang semula membara kini berubah menjadi cahaya lampu 5 watt, cahaya temaram yang memang lebih cocok untuk dibawa melayang ke pulau kapuk. Tidur pun lebih nikmat daripada menulis. 

Tetapi, apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut harus kita ladeni sepenuhnya?. Kenapa tak memulainya saja tanpa ada embel-embel keinginan tersebut.

Kalau kita melihat sejarah dan membaca biografi orang-orang yang sukses dalam menulis. Tak semuanya pertanyaan tersebut dapat diterima. Karena banyak penulis yang memulai tulisannya tanpa harus membutuhkan 'kesempurnaan'. Tanpa harus membutuhan fasilitas-fasilitas besar yang dianggap dapat mendongkrak kemampuan menulis.

Kita bisa merujuk kepada mereka, justru mereka berhasil karena keberanian yang mereka punya dalam mencoba, mereka peka terhadap zaman yang sedang dihadapi, punya intuisi yang kuat, mereka tak dihalangi oleh sebuah pertanyaan apakah karya tersebut harus bagus atau tidak?. Jadi, dapatlah diambil sebuah pesan, bahwa keberanian dalam mencoba adalah faktor penentu sebuah keberhasilan dalam menulis.

Keinginan yang selama ini kudamba adalah “Aku ingin menjadi penulis”. Rasanya terlalu besar dan menjadi beban bagiku. Eloklah jika dirubah sedikit menjadi “Aku harus menulis”. Karena dengan berangkat dari motivasi “Aku harus menulis”, aku tak dihantui bayang-bayang keinginan besar hingga membuatku stagnan dan tidak menukil secuil kalimat apapun. 

Tanpa menafikkan sebuah pepatah: gantungkan cita-citamu setinggi langit, memang cita-cita besar dibutuhkan untuk menjadikan kita orang yang besar, tapi hal terpenting dalam membangun sesuatu yang besar adalah memulainya dengan hal-hal kecil. Seperti membangun sebuah rumah, himpunan batubata yang kecil dibutuhkan demi berdirinya tembok-tembok dan dinding-dinding gedung yang kokoh. Ambillah batu bata satu-persatu, torehkan kalimat sedikit demi sedikit, tanpa motif ingin menang, tanpa desakan agar sebuah karya bagus atau tidak, hingga sebuah tulisan dapat ditorehkan.

Kegiatan membaca dan menulis adalah hal terpenting dalam membangun sebuah peradaban. Memulainya dengan membaca, mengkaji, mengamalkannya hingga menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Belajar menulis sejak dini harus dilakukan, karena sia-sia rasanya ketika apa yang dibaca dan dipahami tak dapat kita petakan ke dalam sebuah tulisan yang mungkin bisa bermanfaat untuk orang lain.

Bak air yang tergenang, bisa membusuk lambat laun, Bak katak dalam tempurung. Pepatah ini mungkin tak asing bagi kita, interpretasi dari pribahasa tersebut adalah Aku harus menuangkan dari segala sesuatu yang kubaca dan kupahami ke dalam sebuah tulisan, harus kumulai dengan semangat berani untuk mencoba, tanpa harus takut untuk dikritisi bahkan disalahkan. Karena kritikan adalah kejujuran yang bisa kita dapat walau dari musuh sekalipun. Maka kritik dan saran sangat dibutuhkan dalam memperbaiki sebuah tulisan.

Aku harus menulis sebelum aku menjadi penulis, dan kuabaikan segala ‘kesempurnaan’. Aku harus memulainya dengan keberanian untuk mencoba. Kalimat-kalimat ini kujadikan sebagai motivasi dan bantahan atas pertanyaan-pertanyaan yang bisa menghadang dalam berproses membuat tulisan. Bukan bermaksud ingin sombong dan congkak, tetapi tekad dan komitmen rasanya perlu dituangakan dalam sebuah kalimat, sehingga kita dapat berkaca darinya. Kalimat ini dapat bermanfaat dalam membangun sebuah semangat ketika kita ingin memulai sesuatu, namun kita takut untuk mencoba. Sedangkan ketika sudah merasa bisa dan terbiasa, maka semangat untuk menjadikan sebuah karya tulis menjadi berkualitas memang harus ditanamkan. Tetapi, dalam berproses, hal-hal kecil sangat berarti untuk dilakukan, seperti keberanian untuk mencoba dengan menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Hingga pada suatu waktu kita dapat menghasilkan tulisan-tulisan yang berkualitas. Maka, mulailah dengan hal-hal kecil dengan keberanian yang tinggi untuk mencoba. 
Tulislah apapun yang ingin kau utarakan. Timbulkan perasaan senang dalam menulis, tanpa harus merasa terbebani. Terimalah kritik dan saran, setelah itu kita belajar dari kesalahan-kesalahan. Mulailah memperbaikinya,  menulislah kembali, hingga karya-karya yang bermanfaat dapat ditorehkan. Semoga Allah SWT senantiasa  memberikan hidayah-Nya.

0 comments:

 
;