Aku sering mendekat dikala duka. Dengan beratus, beribu atau berjuta-juta kesedihan kuhampiri diriMu. Kala itu air mata berkata bahwa sosokku adalah lemah, terkulai dan tak berdaya. Kaulah yang paling berarti, Kau adalah tempat pelarian duka terbaik. Yang mengubah air mata menjadi rona, yang membuatku kembali berjaya. Sehingga keyakinan kujadikan tempat memelas dan meratapi. AjaranMu hanya kugunakan dikala aku terjatuh. Dan Kau adalah sosok yang kuharap menemani dikala sendiri.
Ketika duka berganti, begitu cepatnya aku menjauh. Ku pun tak datang lagi, tak selalu mendekati. Aku tak mensyukuri nikmat ini. Hingga kejujuran merasakan bahwa aku tak pernah menghampiriMu dikala gembira. Aku menganggap bahwa Kau adalah Tuhan bagi orang-orang yang berduka, Tuhan bagi jiwa-jiwa sepi. Insan yang merasakan sunyi, yang tersendiri dan tak berarti.
Tapi, hati kecil mulai bertanya-tanya. Itukah Tuhan yang kuimani? Tuhan yang terlupakan dikala aku tercukupkan. Sedang ketika lara menimpa Dia adalah sosok yang dicari.
Maka, kucoba mendapatiMu dengan sanggup diri. Untuk mengetahui makna Tuhan yang kucari. Tahap demi tahap kulalui, hingga aku mulai menemukan sedikit arti. Sungguh, t’lah salah aku memahami, hingga Tuhan ku salah arti. Betapa berdosanya diri ini.
Untuk raga yang kupunya, bagi jiwa yang kuasuh. Kuharap kini aku menyadari tentang sifatku yang keji. Maka, aku meminta padaMu, luruskan hati. Agar s’lalu mendekat dikala suka maupun duka, Disaat sendiri atau bersama. Bahkan pada kondisi apapun yang terjadi. Maafkan hamba yang bahkan dengan sengaja, MencampakkanMu dikala suka.
Untuk semua salah yang ada
Tentang semua alpa dan dusta
Tentang langkah-langkah nista
Leburlah mereka dengan api yang membara
Hingga tiada lagi yang kupunya
Tentang semua alpa dan dusta
Tentang langkah-langkah nista
Leburlah mereka dengan api yang membara
Hingga tiada lagi yang kupunya


0 comments:
Post a Comment