hujan petang
empat dara pada percakapan
kopi dalam penantian,
aku juga.
ada anggrek putih yang setia pada
rintik
ia semakin mekar
karena kekasihnya adalah basah
hujan petang,
kopi t’lah kuteguk perlahan
s’orang pramusaji memulangkan
resahnya pada lantai
aku masih menunggu
menatap piano,
jua deretan pengeras suara
sedikit tempias menyambangi,
ia ingin berbagi kasih.
lalu dimana perempuan yang kutunggu?
ada lelaki paruh baya,
dua kali meminjam pemantik api
juga menunggu
hujan t’lah bersama malam
aku tetap menunggu
menunggu puisi datang.
(Medan, 29/12/13)
*pada sebuah warkop

0 comments:
Post a Comment