29 December 2013

Menunggu

hujan petang
empat dara pada percakapan
kopi dalam penantian,
aku juga.
ada anggrek putih yang setia pada rintik
ia semakin mekar
karena kekasihnya adalah basah

hujan petang,
kopi t’lah kuteguk perlahan
s’orang pramusaji memulangkan resahnya pada lantai
aku masih menunggu
menatap piano,
jua deretan pengeras suara

sedikit tempias menyambangi,
ia ingin berbagi kasih.
lalu dimana perempuan yang kutunggu?
ada lelaki paruh baya,
dua kali meminjam pemantik api
juga menunggu

hujan t’lah bersama malam
aku tetap menunggu
menunggu puisi datang. 


(Medan, 29/12/13)
*pada sebuah warkop

0 comments:

 
;