23 February 2010

Sejenak Merenung

Romantika mengusikku untuk kembali. Kisah yang hampir mirip kuterima tanpa logika. Aku melihat sesuatu yang pernah kualami, lalu ku kayuh langkah sepi untuk merenungi. Sunguh inspiratif, aku tak mau sia-sia. Pikiran pun mengajak tangan untuk beradu. Dengan sedikit 'asap' terciptalah pendukung suasana. Seakan tak mau ketinggalan, musikku berirama ideologi. Bait-bait ini bagaikan obat untuk menuntaskan teka-teki yang masih menggenang.

Secangkir teh siap tersaji. Aku mengaduk panas diantara partikel-partikel manis, sesekali kucicipi. Oghh, sungguh nikmat malam ini. Diantara penghuni yang terlelap, aku masih berpacu.
Tuhan… 
Tak luput asmaMu menghiasi. Aku bagai petapa sunyi, mencari irama abstrak. Nada-nada kuat terngiang, tapi belum terdefinisi. Tidurpun menjadi tumbal diantara jemari yang menari. Karena masa lalu yang tak henti menghujani, petaka bagiku jika hanya sepintas lalu.

Ada rindu yang menggema, ada cita yang tertunda. Ego-ego yang belum terpenuhi dan beban dipundak tak lagi ringan. Tuntutan memang tersembunyi, namun kedewasaan harus bersikap. Aku bertarung diantara realitas dan idealisme.

Terkadang hari-hari tak bermakna, hanya keluh-kesah yang kupunya. Beragam ilmu yang kubaca tiada amal yang membarengi. Bak air yang menggenang, bisa membusuk lambat laun.

Yaa Rabb…
Aku tak mau merugi, karena hidup ini dua kali. Kuingin kelak nanti aku bahagia di alam yang abadi. Maka, bangunkan aku dari halusinasi. Sadarkan aku dari fantasi yang menghantui. 

Sudahlah cukup aku terdiam
Kini tibalah perbuatan
Mengarung hidup yang penuh tantangan

0 comments:

 
;