14 February 2010

Aku Terhalang Bisu

Pagi itu aku seakan kehilangan. Ketika kau kuantar menuju keberangkatan, hati seakan tak rela. Tapi bibir tak sanggup berkata: “Aku butuh kau lebih lama”

Dikala sosok terlepas dari pandangan, sedih pun tak tertahan. Bahkan airmata ikut mehiasi. Wajahku basah dengan penyesalan akan permintaanmu yang tak kuberi, akan kesempatan yang kuabaikan. Hingga butuh lama untuk melupakan, tentang kesalku akan keegoisan.

Aku pun menulis syair ini, karena aku merasa tegar dengan tulisan. Kutumpahkan segala kenangan akan Indahnya kebersamaan, dengan singkatnnya perjumpaan. Tentang penyesalan dan lubang-lubang yang tak mampu ku tutupi

Adikku, banyak yang ingin kuberi. Banyak pula makna yang ingin kubagi. Tentang kehidupan yang akan kita jalani, tentang tuntunan yang telah kupelajari. Namun aku terhalang bisu, karena kuanggap kita lelaki. Hingga perkataan kurasa tabu.

Gundah dalam hati, inilah yang kurasakan saat ini. Aku dihantui pertanyaan-pertanyaan. Apakah lelaki harus saling diam? Apakah persaudaraan hanya sebatas darah dan ikatan? Apakah airmata itu kelemahan? dan apakah kelemahan harus kita sembunyikan?. Hingga kita diam disaat pertemuan, tanpa cerita dan perhatian. Tapi, disaat perpisahan kita merasakan kehilangan. Terkadang penyesalan pun tak tertahankan.

Belum kudapati sebuah jawaban, karena aku tak pernah diajarkan. Kelelakian hanya kudapat dari pengamatan. Segala makna itu tafsiran. Sungguh, masih ingin aku temukan, akan makna lelaki yang hakiki. Hingga nanti aku sanggup berbagi.

Aku terhalang bisu. Kebahagiaan belum mampu kuberikan, perhatian pun tak rutin kusumbangkan. Untuk menjadi teladan saja aku masih perlu perjuangan. Aku baru merangkak dari kebiasaan, dari lingkungan yang tak berkawan. Hanya coretan yang mampu kuberikan, semoga kiranya menjadi pelajaran. Hingga tiba saatnya, aku pulang dengan cerita. Kita lalui kehidupan di jalan kebenaran

0 comments:

 
;