Kertas ini tak lagi putih. Beribu, bahkan berjuta cerita sudah digoreskan. Hitam dan putih kehidupan mewarnai perjalanan. dua puluh empat tahun diantara sejarah dan harapan, aku masih menghentakkan kaki di peradaban. Terima kasih kepada Allah, rasa syukur atas nikmat yang tiada terlukiskan.
Melangkah ke sirat masa depan, masa lalu eloklah menjadi pemahaman sebelum jauh mengarungi kehidupan. Kenangan yang indah dan kisah lalu yang memilukan telah tersimpan dalam catatan di langit (lauh al-mahfudz).
Lembaran-lembaran telah dilalui. Apakah masih setengah atau hampir penuh? teka-teki ini tak perlu dijabarkan, hanya menambah penat pikiran. Cukuplah menjadi renungan. Karena yang terbaik adalah melaluinya dengan kebenaran.
Kisah-kisah yang memilukan, adalah yang lalu dijadikan pelajaran. Maka temukan intan di dalam pekatnya kubangan. Kadang keluhan disuarakan, itu lumrah selama tak meruntuhkan. Tapi tak akan pernah mengobati kepiluan. Mungkin untuk mengiklankan kelemahan, berharap ada sambutan-sambutan. Tapi, sampai kapan. Apakah gandengan selamanya bisa bertahan?. Tiadalah jua jalan yang pantas, selain bangkit dari keterpurukan. Berdiri diatas kaki tumpuan.
Demi indahnya masa depan, banyak harapan yang disanjungkan. Do'a pun kian dilantunkan, dan tak lupa usaha dikerjakan. Sejauh mana ilmu diamalkan dan sedalam mana tingkat keyakinan, menjadi bahasan pagi dan malam. Apakah sebatas pengetahuan? adakah sudah dalam penglihatan? ataukah menuju pembuktian kebenaran?. Semuanya menjadi usaha yang kian ditingkatkan.
Dua puluh empat tahundiantara sejarah dan harapanralita kini dihadapankembali mengangkat tanganmenyiapkan bekal perjalananmenyongsong keniscayaan hari kemudian


0 comments:
Post a Comment