Menulis di secarik kertas, melukiskan kisah malam. Aku baru saja dirundung malang, sempat dihuni kegetiran. Tentang kehilangan sepupu tercinta, tak terduga dia mati muda. Dan kini telah tiada
Perjalanan kisah di kota kelahiran. Bertemu sanak saudara, kerabat dan handai taulan. Banyak kudapat pelajaran. Tentang kebersamaan dan ketegaran, aku berkata : "Hanya kenangan yang abadi di dunia". Sedang di sana, di alam lain yang berbeda kita tak punya apa-apa yang pernah ada. Tanpa amal dan ibadah kita akan celaka.
Memandang raut wajah kedua orang tua menghadirkan sesuatu yang mahal. Kegembiraan mereka hilangkan kegelisahan, aku dapat berkata : "Kasih sayang mereka sangat berharga". Mereka yang kumiliki lebih berarti dari cita-cita yang ada.
Kali ini aku merasakan ketenangan yang berbeda. Kekurangan lahirkan falsafah kekayaan, bahwa kekayaan sesungguhnya adalah ketika berbagi suka diantara mereka. Karena segala hal yang berbau kepunyaan dunia, tak abadi ditelan masa. Aku sempat berkata : "Aku akan sangat bahagia, walau hanya mereka yang kupunya". Senyum, tawa dan keceriaan mereka adalah kebahagiaan yang kudamba. Walau saat ini hanya do'a yang kupunya, semoga mereka yang kumiliki berbahagia.
Memang tak ada yang abadi, dunia pun sirna jika Tuhan menghendaki. Dan itu pasti, karena mati tak perlu dicari. Perjalanan kali ini, kisah kemalangan yang kutemui, orang tua dan sanak saudara yang kujumpai, menghiasi kisah menjemput pagi.
Esok hari, berharap aku masih di sini. Kembali menjemput mati dan menjalani hari-hari penuh arti. Untuk bekal perjalanan abadi.
Perjalanan kisah di kota kelahiran. Bertemu sanak saudara, kerabat dan handai taulan. Banyak kudapat pelajaran. Tentang kebersamaan dan ketegaran, aku berkata : "Hanya kenangan yang abadi di dunia". Sedang di sana, di alam lain yang berbeda kita tak punya apa-apa yang pernah ada. Tanpa amal dan ibadah kita akan celaka.
Memandang raut wajah kedua orang tua menghadirkan sesuatu yang mahal. Kegembiraan mereka hilangkan kegelisahan, aku dapat berkata : "Kasih sayang mereka sangat berharga". Mereka yang kumiliki lebih berarti dari cita-cita yang ada.
Kali ini aku merasakan ketenangan yang berbeda. Kekurangan lahirkan falsafah kekayaan, bahwa kekayaan sesungguhnya adalah ketika berbagi suka diantara mereka. Karena segala hal yang berbau kepunyaan dunia, tak abadi ditelan masa. Aku sempat berkata : "Aku akan sangat bahagia, walau hanya mereka yang kupunya". Senyum, tawa dan keceriaan mereka adalah kebahagiaan yang kudamba. Walau saat ini hanya do'a yang kupunya, semoga mereka yang kumiliki berbahagia.
Memang tak ada yang abadi, dunia pun sirna jika Tuhan menghendaki. Dan itu pasti, karena mati tak perlu dicari. Perjalanan kali ini, kisah kemalangan yang kutemui, orang tua dan sanak saudara yang kujumpai, menghiasi kisah menjemput pagi.
Esok hari, berharap aku masih di sini. Kembali menjemput mati dan menjalani hari-hari penuh arti. Untuk bekal perjalanan abadi.


0 comments:
Post a Comment