20 August 2009

Apa Memang Sudah Merdeka? (Sepenggal Asa Sepenggal Rasa)

Negeriku,  
kedaulatanmu diganggu negara sebelah. Kekayaan yang melimpah ruah kini bocor secara terarah. Nasionalisme dan Patriotisme berubah arah, menjadi Neoliberalisme dan Hedonisme yang ejawantah.

Lihatlah dan telaah,
di negeri ini orang asing bebas menjarah. Migas, Tambang dan Telekomunikasi nyaris sepenuhnya milik mereka. Yang kita dapat hanya sisa-sisa. Sementara, pengangguran dimana-mana, kemiskinan merajalela. Elite politik hanya bicara harta dan tahta. Lalu, dimanakah nurani? Keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat yang selalu menjadi sumpah satir para elite disela-sela kampanye berakhir? Tentu, masih berupa janji-janji yang tiada akhir.

Oh… tumpah darah,
kekayaanmu memang melimpah ruah, tetapi rakyatmu menangis darah. Karena penguasa yang serakah, karena pemerintah yang pasrah. Membiarkan negeri ini terjajah oleh negara asing yang suka menjarah.

Negeriku tinggal setengah, asetmu banyak tergadaikan. Hanya dijual dan dijual oleh rezim yang kehilangan akal. Sehingga rakyatmu banyak yang kesal, termasuk aku yang takut akan tanahku menjadi sejengkal.

Aku bukan tak cinta padamu, bukan pula membencimu hanya karena kritikku yang menggebu-gebu. Tetapi, karena aku peduli padamu sehingga aku tak mau diamku menjadi penyesalan bagiku. Seketika, aku harus bersuara tentang apa yang kurasa, tentang geramku yang membuana. Bahwa kau kini tak ubahnya boneka, yang diatur dan dipermainkan sesuka hati. Dipaksa selalu mentaati oleh pihak lain yang kukenal sebagai Agresor, Kapitalis dan Imperialis.

Wahai negeri yang kucintai,
ku tak melarang kau berteman dengan siapapun, karena aku tak mungkin mengekangmu. Tapi, pikirkanlah. Apakah berteman dengan mereka merupakan solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan bangsa?. Dan mungkinkah hubungan yang terjalin bisa menguntungkan kita, tanpa harus merusak tatanan budaya, ideologi dan jati diri bangsa kita?. Mustahil rasanya. Karena realita telah berbicara bahwa mereka punya intrik dibalik sebuah pertemanan.

Negeriku,
Maafkan bila celaku membuatmu resah, dan syair ini membuatmu gundah. Tapi, pantaskah aku bisu dan bungkam seribu bahasa hanya karena ku tak ingin kau tersindir?. Sementara, realita yang kuhadapi dan ku tahu sungguh membuatmu terpukul dan menderita. Melihat raga dan jiwamu digerogoti rayap-rayap durjana yang semakin hari semakin menghabisi tanah ini.  

Tentu aku takkan tinggal diam. Aku masih punya pena, aku masih punya tinta, dan aku masih punya segudang amunisi yang setiap saat akan keluar dari goresan-goresan yang kuanggap senjata. Mungkin, senjataku tak semutakhir punya mereka. Bukan berarti aku surut dan takkan bertempur. Karena semangatku yang kian membara. Maka kuangkat senjata dan kuteriakkan perang terhadap Neoliberalisme dan Hedonisme yang suka menjelma bak peri penyelamat dunia. Mereka (Hedonisme & Neoliberalisme) tak pantas bagi kita. Mereka musang berbulu domba atau ular berkepala dua. Atas nama HAM, Demokrasi dan Kebebasan, mereka dengan rela menyumbang tenaga, otak dan dana kepada kita. Tetapi, tujuan sesungguhnya tersirat. Penuh tipu muslihat, propaganda busuk dan pasti butuh tumbal.

Lalu, tumbalnya apa? tentu saja kau bertanya. Mereka rusak budaya dan ideologi kita, mereka tanamkan sifat ketergantungan. Sehingga kita tak bisa bangkit dan berdikari secara ekonomi. Akibatnya rakyatmu menderita. Disparitas si miskin dan si kaya semakin melebar tentunya.

Negeriku,
di hari kemerdekaanmu sedikit ku suarakan isi hati. Karena amanah Ibu pertiwi, ku tulis pesan buat bangsa ini.
Bangunlah anak bangsa. Bangkitlah generasi muda. Perangi pengaruh mereka dengan jiwa dan raga. Kembalikan nilai-nilai budaya dan ideologi kita. Kibarkan Nasionalisme, kobarkan Patriotisme. Dan ingatkan yang berkuasa bahwa hanya kitalah yang patut berjaya di semenanjung Nusantara

Negeriku tinggal setengah,
setengahnya lagi diambil penjarah
Rebut kembali hingga utuh tak terbelah
Demi cita-cita ibu pertiwi
Dan semoga ALLAH meridhoi
MERDEKA… !!!





 

0 comments:

 
;