I
...
pada rentang masa;
malam semakin menghitam, tak ada lagi jingga.
jejaka itu masih saja menyahut pena
mamagut kata demi kata
dalam irama abstrak yang tak mampu ia tuntaskan
ia merobek-robek kertas nan tak berdaya:
“kau kujemput lewat titik, namun tak satupun dapat menjadi
lama nian, Wahai!
walau dan berwalau
adakah sangkal bersangkal hingga kemurnianmu tak sanggup kunukil”
malam mulai menguning
gairah pun hilang ditelan alunan
ia mulai alpa
...
pada rentang masa;
malam semakin menghitam, tak ada lagi jingga.
jejaka itu masih saja menyahut pena
mamagut kata demi kata
dalam irama abstrak yang tak mampu ia tuntaskan
ia merobek-robek kertas nan tak berdaya:
“kau kujemput lewat titik, namun tak satupun dapat menjadi
lama nian, Wahai!
walau dan berwalau
adakah sangkal bersangkal hingga kemurnianmu tak sanggup kunukil”
malam mulai menguning
gairah pun hilang ditelan alunan
ia mulai alpa
II
...
ah, kupetik gitar saja
kan kubakar hampa
walau semakin tak berwujud
namun aku puas lewat nada
kan kubakar hampa
walau semakin tak berwujud
namun aku puas lewat nada
III
...
lalu kutempatkan ketakberwujudanmu
pada nada-nada sumir yang tak mampu kuulang
tata letak nan bimbang, sumbang.
biarlah,
walau tak menjadi makam
walau tak dapat bersemayam
hinalah!
karena lakuku bak mengukir di atas debu
kan berlalu; angin hampa kian menyapu
[Rantauprapat, 7/9/2014]
tata letak nan bimbang, sumbang.
biarlah,
walau tak menjadi makam
walau tak dapat bersemayam
hinalah!
karena lakuku bak mengukir di atas debu
kan berlalu; angin hampa kian menyapu
[Rantauprapat, 7/9/2014]

0 comments:
Post a Comment