20 September 2014

Jejak Terbius Hampa

I
...
pada rentang masa;
 
malam semakin menghitam, tak ada lagi jingga.
jejaka itu masih saja menyahut pena 
mamagut kata demi kata
 
dalam irama abstrak yang tak mampu ia tuntaskan  
ia merobek-robek kertas nan tak berdaya:  
“kau kujemput lewat titik, namun tak satupun dapat menjadi
lama nian, Wahai!
walau dan berwalau  
adakah sangkal bersangkal hingga kemurnianmu tak sanggup kunukil”
 
malam mulai menguning  
gairah pun hilang ditelan alunan
ia mulai alpa
 

II
...
ah, kupetik gitar saja  
kan kubakar hampa
walau semakin tak berwujud
namun aku puas lewat nada
 

III
...
lalu kutempatkan ketakberwujudanmu pada nada-nada sumir yang tak mampu kuulang  
tata letak nan bimbang, sumbang.
biarlah, 

walau tak menjadi makam  
walau tak dapat bersemayam
 
hinalah!
karena lakuku bak mengukir di atas debu  
kan berlalu; angin hampa kian menyapu
 

[Rantauprapat, 7/9/2014]

0 comments:

 
;