dimalam
perjamuan sajak,
diharibaan puisi.
tatkala para penyair bersilat kata-kata
Aku bercengkrama pada kuntum
sedang Ayahnya
hanya menunggu diluar arena
ketika ia menghidangkan metrum
kelopaknya memekarkan malam
semangatnya menyambangi bintang
suaranya memulas keheningan
pada pelafalan diksi-diksi
Ia bersaksi
kaji-kajinya tentang pengasuh
mengingatkan yang diasuh
Aku terbawa arus lalu
terombang-ambing dalam nada lama
partiturnya belum usang
masih terngiang;
ketika ayah melihatku pada arena yang berbeda
betapa suaranya membangkit semangatku
Aku dan si Kuntum di arena yang tak sama
Namun Ayah tetaplah pendukung yang setia
Aku terkagum
Namun Aku masih Si Pengagum
hanya membalasmu pada baris-baris pelampiasan.
diharibaan puisi.
tatkala para penyair bersilat kata-kata
Aku bercengkrama pada kuntum
sedang Ayahnya
hanya menunggu diluar arena
ketika ia menghidangkan metrum
kelopaknya memekarkan malam
semangatnya menyambangi bintang
suaranya memulas keheningan
pada pelafalan diksi-diksi
Ia bersaksi
kaji-kajinya tentang pengasuh
mengingatkan yang diasuh
Aku terbawa arus lalu
terombang-ambing dalam nada lama
partiturnya belum usang
masih terngiang;
ketika ayah melihatku pada arena yang berbeda
betapa suaranya membangkit semangatku
Aku dan si Kuntum di arena yang tak sama
Namun Ayah tetaplah pendukung yang setia
Aku terkagum
Namun Aku masih Si Pengagum
hanya membalasmu pada baris-baris pelampiasan.
(Rantauprapat, 2 Desember 2013)

0 comments:
Post a Comment