22 March 2011

B U L A N

Bulan...
Walau ada yg berkata kalau kau hanya terlihat indah di kejauhan, aku tak peduli. Bagiku, kaulah sang pemberi sejati. Kaulah ciptaan Tuhan yang sanggup memberi sebanyak apapun yang kau terima. Kau tak pernah korupsi.

Bulan…
Kadang kau terlihat sabit, kecil, hingga besar menjadi purnama. Itulah tanda-tanda waktu bagiku. Bagi kemampuan diriku untuk membaca, bahwa aku pernah tiada, terlahir, dan dewasa. Hingga nanti aku mati, terkubur di perut bumi.

Oh Bulan…
Adakah aku belajar darimu?. Ketika kau tak mampu menjadi sumber pemberi, kau pantulkan segala pemberian. Adakah kuambil pelajaran?. Ketika aku tak mampu menyinari, maka jadilah perantara cahaya. Ketika di sekitar membutuhkan, adakah keseriusanku untuk merasakan?.

Malam ini, mengingatkanku pada bulan penuh di kotaku. Pada purnama bertahun silam, aku berkaca dari makhluk ciptaan. Bahwa tak sepenuh apapun yg bisa kuberi dari apa-apa yg telah kuterima. Bukan pula sosok yang mampu menyajikan kesempurnaan. Bahkan aku tak sanggup menerjemahkan segala hal yang datang. Aku hanya sanggup melalui pendekatan. Bahwa pada penampakan diam, perhatian harus tetap tercurah. Meskipun hanya bisa memberi dari kejauhan, kuharap bait-bait dapat menenangkan.

Oh bulan…
Dengan sinar dan keindahanmu kau undang kembali jemariku. Untuk mengasah mata hati. Bahwa pada penciptaanmu kutemukan Tuhan. Dia yang hanya satu manjadikan keteraturan.

0 comments:

 
;